Masuk

Ingat Saya

Resolusi Damai yang Berkesinambungan

Ribuan orang Kristen di Kabupaten Aceh Singkil mengungsi menyusul kerusuhan yang menyebabkan terbakarnya tiga gereja. Terjadinya pembakaran ini sangat disayangkan, terlebih sejak dulu sudah digaungkan kehidupan yang damai. Dalam sidang umum PBB tanggal 28 September 2001 telah disetujui resolusi Nomor 55/282 yang menetapkan tanggal 21 September sebagai International Day of Peace. Badan Dunia ini menganjurkan kepada semua pihak untuk menyelesaikan konflik secara damai melalui dialog secara terus menerus. Dalam mewujudkan perdamaian dunia ini, “Dialogue Among Civilization” sangat dianjurkan.

Lebih dari sedasawarsa, anjuran mewujudkan perdamaian melalui dialog tidak berjalan efektif. Bahkan belum terlihat hasil yang signifikan dari pendekatan dialog dalam menyelesaikan konflik antarumat beragama, selama ini karena pendekatan yang dilakukan masih bersifat top down, belum menggunakan model dialog yang bersifat bottom up. Sehingga bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan dan evaluasi penyelenggaraan dialog kerukunan di masa mendatang.

Selain itu, pemahaman dialog kerukunan masih menggunakan untuk mencari kebenaran. Dalam melakukan dialog untuk menyelesaikan sebuah konflik, apapun bentuknya, diperlukan adanya sikap saling terbuka, saling menghormati dan kesediaan untuk mendengarkan yang lain. Sikap-sikap ini diperlukan untuk mencari titik temu (kalimatun sawa’) antara berbagai pihak, karena masing-masing mempunyai karakteristik yang unik dan kompleks.

Resolusi Damai

Saat dialog digunakan untuk menyelesaikan sebuah konflik keagamaan, maka pemahaman terhadap agama-agama lain tidak hanya diperlukan pada pemuka atau elit agama, tetapi harus merambah kepada umat atau lapisan masyarakat lapisan terbawah. Atau masyarakat awam yang bergesekan secara langsung dengan para pemeluk agama-agama lain dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman terhadap agama orang lain dan ilmu perbandingan agama merupakan prasyarat utama untuk melakukan dialog antar agama, tanpa ini dialog mustahil dilaksanakan karena ilmu perbandingan agama akan memberi pemahaman bagaimana kondisi dan keunikan agama-agama lain. Sebab ilmu perbandingan agama merupakan pengetahuan yang berada pada dalam “hati” agama yang bisa menerangkan makna ritus-ritus keagamaan, doktrin-doktrin dan simbol-simbol.

Ilmu perbandingan juga menyediakan kunci untuk memahami pentingnya pluralitas agama dan metode untuk masuk kepada dunia agama lain tanpa mereduksi signifikansi atau menghilangkan komitmen kita kepada dunia agama yang menjadi kajian kita. Ilmu Perbandingan akan mengkaji agama dari segala aspeknya; Tuhan dan manusia, wahyu dan seni yang sakral, simbol-simbol dan images, ritus-ritus dan hukum-hukum agama, mistisisme dan etika sosial, metafisika, kosmologi dan teologi.

Memang ilmu perbandingan agama dipergunakan untuk memperlancar dialog ini dan dialog antar agama sendiri merupakan media untuk memahami agama lain secara benar dan komprehensif. engan adanya ilmu perbandingan akan menimbulkan pemahaman dan pencerahan kepada umat, bahkan sebagai wadah kerukunan antar umat beragama.

Keterbukaan dalam dialog menyelesaikan sebuah konflik keagamaan merupakan kuncinya. Sebenarnya menganggap bahwa agama yang dipeluk merupakan agama yang paling benar. Pemahaman semacam ini tidak salah. Malapetaka akan timbul apabila orang yang yakin bahwa agamanya yang ia peluk paling benar, kemudian memaksa seseorang untuk memeluk agamanya.

Dialog antar agama yang didasari dengan ilmu perbandingan agama akan menciptakan sebuah kerukunan umat yang aktif. Di mana masyarakat ikut andil dalam menjaga kerukunan. Sebaliknya, tanpa adanya pemahaman agama lain ini akan menimbulkan kerukunan dialog pasif, di mana antar umat beragama tidak ada kerja sama dan ketika adanya gesekan kecil akan menimbulkan sebuah konflik.

Dengan adanya pemahaman tentang agama lain, masyarakat tidak mudah terbawa konflik yang mengatasnamakan agama. Dengan pondasi ini, akan tercipta dengan sendirinya sebuah dialog terbuka, penuh kasih sayang dan saling memahami satu sama lain. Dialog yang tidak mencari yang benar atau salah, tetapi dialog yang memberikan penyelesaian agar dapat hidup berdampingan dalam perbedaan.

Dengan demikian, sepanjang sikap di atas belum tercairkan, maka dialog menuju cita-cita agama yang luhur sulit dicapai. Maka jangan khawatir dengan dialog, karena yang ingin dicapai dalam dialog, kata Victor I. Tanja bukan soal kompromi akidah, melainkan bagaimana akhlak keagamaan kita dapat disumbangkan kepada orang lain.

Dengan