Masuk

Ingat Saya

Agama dan Lingkungan

Setiap tahunya, ada hari spesial untuk hari, bahkan tanggal 10 Januari ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup untuk Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia diberi petanda kerusakan alam yang berupa bencana banjir, tanah longsor, dan angin ribut yang mengancam beberapa daerah di Indonesia. Fenomena bencana banjir dan tanah longsor itu karena manusia telah gagal mengemban misinya sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi, untuk memelihara lingkungan hidup. Lingkungan tidak hanya diperingati semata, tetapi lebih dari itu.

Bencana yang terjadi setiap tahun, merupakan penanda bahwa kerusakan lingkungan dan manusia tidak mampu menyeimbangkan lingkungan. Bumi pertiwi Indonesia seakan-akan menyiratkan dirinya sedang sakit. Rusaknya alam membuat keseimbangan lingkungan hidup mengalami ketimpangan. Rentetan bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran, pencemaran lingkungan memperparah kondisi lingkungan hidup manusia.

Manusia mengambil keuntungan lingkungan tanpa mempertimbangkan hari esok. Lihat saja, pepohonan yang ada di kota-kota digusur dan dibabat habis untuk kepentingan pembangunan, perumahan dan pendirian toko, supermarket dan mal serta perluasan jalan. Kota-kota membutuhkan banyak pohon dan penghijauan sebagai upaya penyerapan terhadap zat-zat yang kotor dan upaya penyerapan air, sehingga polusi udara dan banjir tidak datang setiap tahun.

Agama Lingkungan

Manusia sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi, tidak hanya menjadi raja dan dilayani semata. Tetapi manusia hadir untuk memenuhi amanah Tuhan yang mencakup kewajiban dan tanggung jawab moral, sosial manusia terhadap Tuhan, terhadap diri manusia sendiri dan sesama manusia serta lingkungan hidup.

Dengan kata lain, hubungan manusia dengan lingkungan dan kehidupan ini menjadi pengelola, penguasa, pemakmuran dan penyelenggara atas kehidupan yang berlangsung ini. manusia dianggap Tuhan, memiliki otoritas penuh terhadap alam, sebagai wakil-Nya, manusia haru dapat menjaga keseimbangan alam dengan baik.

Tuhan, manusia dan alam merupakan salah satu bagian dari konsep religius. Karena itu, dalam perspektif Islam, bencana alam sebenarnya memberikan otokritik bagi kita sebagai manusia beragama, sejauh mana nilai spiritualitas mewarnai kebijakan kita tentang lingkungan. Karena spiritual tidak semata-mata hubungan kita kepada yang sakral (Tuhan), tetapi juga hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan.

Seperti halnya ajaran Islam, melarang umatnya membuat kerusakan di muka bumi. Hal itu sesuai firman Allah SWT dalam surah Al- A’raf ayat 56: “Janganlah Kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik”. Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar tak melakukan pencemaran dan kerusakan di muka bumi: “Terlaknat orang yang melakukan kerusakan terhadap sesama muslim ataupun lainnya”.

Kedua pegangan utama (al-Quran dan Hadits) umat Islam diberikan amanah agar memelihara alam (tidak membuat kerusakan di bumi) merupakan manifestasi perintah syukur kepada Tuhan. Karena Islam adalah agama yang menjunjung nilai-nilai syukur, maka dari awal kelahirannya, sudah mengajarkan untuk memelihara dan menjaga keseimbangan alam.

Dalam keadaan apapun, sebagai umat yang memegang ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. harus mengagungkan titah tersebut. Hal ini bisa terlihat dalam sejarah Islam, para khalifah Islam, seperti Abu Bakar dan Umar, pernah memperingatkan para laskar saat mempertahankan diri dalam peperangan; Bahwa jangan tebang pohon atau rambah tanaman, kecuali di makan. Jangan pernah membunuh binatang kecuali di makan.

Tidak hanya itu, Islam juga mengenalkan kawasan lindung (hima’) semenjak zaman Rasulullah. Hima’ merupakan kawasan yang khusus dilindungi pemerintah atas dasar melestarikan kehidupan liar di hutan. Nabi pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima’ guna melindungi lembah, padang rumpu dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Lahan yang Beliau lindungi luasnya sekitar enam mil atau lebih dari 1049 hektar.

Konsep tersebut, menunjukkan kepada kita bahwa agama (terutama Islam) juga berperan dalam kelestarian alam. Sebagaimana juga telah ikut aktif dalam menjaga keseimbangan keberlangsungan kehidupan selanjutnya.

Menumbuhkan spiritual cinta lingkungan

Kini, bumi semakin tua. Bumi semakin dirusak manusia. Bumi yang semakin tua karena lapisan ozon yang menipis adalah akibat manusia yang serakah dan hasrat berkuasa yang tak kunjung padam. Patut disesali, tak sepenuhnya kita sadar akan sifat rakus yang sering kita rawat dan manja itu. Manusia yang semula berderap maju menundukkan alam, pada masanya nanti seolah tak berdaya, terpana di depan alam yang hampir hancur.

Menumbuhkan kembali kesadaran spiritualitas menjaga alam mampu memberikan sumbangan dan berperan serta dalam tanggung jawab etis di bidang penyelamatan lingkungan. Pengendalian diri dalam pengeksploitasian alam atau lingkungan dinilai dari lahir dan berkembangnya pemikiran serta semangat itu.

Menempatkan manusia dalam posisi yang memiliki tanggung jawab moral dan etis dalam relasi dengan kosmos atau alam semesta. Dalam dimensi etis, manusia harus berpihak pada alam atau lingkungan dengan selalu bersikap bijak dalam berelasi dengan alam atau lingkungan, tempat ia berada, berpijak, dan berelasi.

Dengan demikian, alam dapat terbebaskan dari kerusakan yang lebih parah. Kita tidak bisa lagi hanya terpaku dan membisu, atau hanya sebagai penonton yang pasif di tengah eksistensi alam yang tidak henti-hentinya digerogoti dan dirusak sehingga bencana alam terus menerjang negeri ini. Sebagai khalifah di bumi, manusia mempunyai tugas mulia untuk bergandengan tangan secara harmonis dengan alam.

Dengan